Ramalan Sosiolog dan Kriminologi
Pandangan Pakar Sosial dan Kriminal
Himpitan ekonomi membuat lebih kreatif
Menurut sosiolog UI, Paulus wirutomo, banyaknya pemicu kekerasan yang terjadi belakangan ini disebabkan karena beberapa factor di antaranya, himpitan ekonomi yang demikian tinggi, naiknya harga-harga kebutuhan pokok , dan tingginya angka pengangguran.
Tekanan ekonomi yang demikian kuat membuat proteksi dari tatanan dan norma kehidupan social masyarakat menjadi mudah keropos, membuat stabilitas emosi yang ada juga turut menjadi rendah, hal ini akan berdampak pada satu tekanan emosi (stress) yang tidak lagi mamapu di toleransi oleh masyarakat itu sendiri hingga menyebabkan hilangnya kendali diri.
Akibatnya masyarakat mudah tersulut emosinya oleh persoalan yang sepele, ucapnya. Wajar jika dalam keadaan perut kosong dan lapar, manusia seringkali bertindak di luar akal sehatnya. Apalagi jika harus menanggung beberapa orang lainnya, timpal Erlangga Masdiana seorang kriminolog UI.
Menurut erlangga, dampak lain dari himpitan ekonomi adalah adanya kehidupan social masyarakat yang juga dapat di temui seseorang atau sekelompok orang yang cenderung mengisolasikan diri mereka dalam masyarakat, mereka inilah yang biasanya memiliki kadar mental yang rendah dan sangat rentan terpengaruh oleh keadaan sekitarnya, tambahnya.
Pendapat berbeda dilontarkan Muhammad mustofa, kriminolog lainnya. Menurutnya , munculnya kekerasan ke ranah public dengan demikian kencang, karena peranmedia massa baik cetak maupun elektronik yang memberikan berita-berita kekerasan.
“sehingga memicu munculnya fenomena kejenuhan atas rasa iba yang di alami oleh setiap pembaca, audiens atau pemirsa. Akibatnya , gejala kekerasan yang mematikan yang dahulunya di anggap sebagai bentuk penyimpangan, cenderung di terima sebagai bagian dari kenyataan hidup sehari-hari yang wajar,” pungkasnya.
Oleh karena itu , paulus menambahkan, untuk meminimalkan segala bentuk kekerasan beserta efek di dalamnya agar tidak meluas, diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah dengan lembaga non pemerintah.
“secara makro pemerintah harus mengembangakan usaha sector riil untuk menciptakan lapangan kerja. Berbagai kebijakan dalam bidang keuangan dan perbangkan semestinya juga lebih mengutamakan masyarakt kecil. Lembaga non pemerintah seperti lembaga keagamaan juga turut bekerja untuk memberikan bimbingan spiritual yang bisa menguatkan kadar keimanan seseorang agar tetap berjalan dalam koridor yang benar” tuturnya.
kalau cara-cara demikian sudah tidak lagi efektif maka untuk bisa tetap mempertahankan hidup setiap manusia diharapkan saling membentuk komunitas, hal ini bisa dilakukan dengan teman seprofesi, seagama, ataupun sesuku. Karena dengan adanya persamaan nasib atas sesama, membuat hubungan manusia biasanya semakin erat sehingga bisa membentuk satu pola hidup yang kuat, tandasnya.
Akan tetapi menurut hery kustanto, sosiolog lainnya, terlepas dari segala urusan hukum Negara, sebenarnya fenomena tindakan yang seringkali terjadi di luar akal sehat tersebut, bukanlah wujud asli dari karakter manusia maupun masyarkat Indonesia.
Sampai sejauh ini karakter asli masyarakat Indonesia adalah manusia yang berjiwa pantang menyerah dan tidak mudah putus asa, sama seperti jiwa yang dimiliki para pejuang. Kalau dicermati dengan lebih bijak, bukankah keadaan sekarang masih jauh lebih baik daripada dengan keadaan zaman nenek moyang kita dulu yang penuh dengan segala keterbatasan.
Jadi tidak alasan kalau himpitan ekonomi membuat setiap kita bersikap putus asa, menyerah, dan melakukan tindakan amoral. Justru sebaliknya, bukanlah kalau dalam suatu keadaan yang terpepet biasanya membuat orang bisa berpikir lebih kreatif, taktis dan cerdik ?” Tanya hery.
